Harapan Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata terhadap Bandara Kualanamu

Pengembangan Bandar Udara Internasional Kualanamu oleh PT Angkasa Pura (AP) II yang bermitra dengan GMR Airports Consortium dengan skema Build Operate Transfer (BOT) dinilai akan mendorong peningkatan pertumbuhan sektor pariwisata dan perekenomian masyarakat Sumatera Utara.

Pasalnya, kerja sama pengelolaan bandara tersebut bakal membawa dan menambah trafik penerbangan serta penumpang baik domestik maupun internasional yang signifikan.

“Ini jelas akan berdampak langsung bagi pertumbuhan pariwisata dan perekonomian masyarakat Sumatera Utara,” kata Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Aviata) Dony Oskaria, daam keterangannya di Jakarta, Selasa, 14 Desember 2021.

Aviata adalah Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata yang membawahi PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (Persero), dan PT Sarinah (Persero).

“Skala ekonomi jelas akan meningkat seiring dengan peningkatan trafik penumpang dan penerbangan, kemudian pariwisata ikut meningkat, sehingga akhirnya Bandara Kualanamu bisa menjadi hub internasional,” ujar Dony.

Terlebih, dalam kerja sama pengelolaan Bandara Kualanamu dengan skema BOT berjangka waktu 25 tahun itu memiliki nilai kerja sama sebesar Rp 56 triliun, dengan komitmen GMR Airports menyuntikkan dana investasi sebesar Rp 15 triliun.

Jumlah tersebut dinilai sangat cukup untuk membuat Bandara Kualanamu semakin besar lagi dalam rangka menuju sebagai bandara hub internasional. Melalui kerja sama ini juga akan memberikan manfaat berupa berbagi ilmu dan pengalaman keahlian dalam pengelolaan bandara kelas dunia.

Menurut data BPS, jumlah wisatawan mancanegara yang melancong ke Sumatera utara pada tahun 2019 sebanyak 258.822, sementara pada saat memasuki pandemi Covid-19 tahun 2020 hanya mencapai 44.285 orang.

GMR Airports Consortium yang dimiliki oleh GMR Group asal India dan Aéroports de Paris Group (ADP) asal Prancis, merupakan jaringan operator bandara yang melayani penumpang terbanyak di dunia.

“Sehingga, kita akan belajar bagaimana pengelolaan bandara secara lebih baik lagi, sekaligus menambah pemahaman mengenai sumber-sumber pendapatan baru di luar traditional income atau di luar pendapatan standar dari pada bandara,” kata Dony.

Dalam hal dampaknya terhadap peningkatan sektor pariwisata di Sumatera Utara, Dony ingin Danau Toba yang saat ini menjadi salah satu destinasi prioritas untuk dikembangkan juga ikut terdampak positif.

Menurut catatan BI, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada 2022 bisa mengikuti target nasional di rentang 4,7-5,5 persen, sementara tahun 2021, pertumbuhan ekonomi diprediksi bisa mencapai 3,2-4,0 persen.

“Kalau trafik meningkat, kemudian Kualanamu menjadi hub internasional, maka turisnya akan meningkat juga. Ini yang akan mendorong percepatan pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi Sumut ke depan,” ujarnya.

ANTARA

Baca : Cukai Rokok Naik 12 Persen, Komite Kretek: Industri Ditekan Pelan-pelan Mati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.